Assalamu'alaikum Wr. Wb.

"Sebarkanlah walau satu ayat pun" (Sabda Rasulullah SAW)

"Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (Q.S. Al-Ahzab:71)




Jumat, Desember 05, 2008

Menangis saat Gerhana

Sebutir air yang turun dan jatuh ke bumi pasti Allah Mengetahui.
Walau rasa itu seperti semut hitam yang ada diatas batu hitam pada malam hari di tengah hutan Allah Maha Mengetahui.....!!!

Siang ini perjalan hidupku cukup melelahkan baik fisik maupun fikiranku, ingin menagis tapi belum waktunya. Aku masih memiliki sejuta salam dan senyum untuk ditebarkan di atas bumi ini. Seperti biasa setiap perjalanan aku akan mencari hikmah tapi siang ini aku benar-benar tak sanggup mencarinya biarlah ia datang sendiri menyapaku. Sebongkah es di gelas telah melebur menjadi satu dengan teh manis dan menjadi es teh manis. Tiba-tiba segores senyum terlintas di depanku, sambil bernyanyi anak kecil itu mencoba menjual suaranya yang tidak merdu kepada para pengunjung rumah makan. Suasana hening yang dari tadi menghujam di kepalaku tiba-tiba berubah seperti bongkahan es yang tadi mencair. Sampai juga anak itu di meja tempatku melempar hening. Disudut lain kulihat seorang anak berjalan maninggalkan rumah makan ini menuju mobil yang dari tadi menunggunya. Usia dua anak ini sepertinya tak terlalu jauh tapi penampilan mereka sangat berbeda. Hampir saja aku melupakan anak yang menjual suaranya di depan ku. Kali ini aku benar benar tak dapat berkata-kata aku hanya mengeluarkan apa yang ada di kantong dan memberikan kapadanya. Entah kenapa aku hari ini biasanya aku paling enggan melakukan itu. ...... (mengapa siang ini begitu aneh)
###
Bersama tebaringnya mentari di garis barat, tubuh terkulai lemas menghamba pada-Nya.
Diantara bayang hitam nan kelam dan penyesalan mendalam terbersit cemas yang ganas.
Bilakah setiap langkah yang telah tercipta menjadi sebaik-baik pengabdian kepada-Nya.
Ataukah semua itu hanya kesia-siaan seprti debu diatas batu yang licin dan tertimpa hujan.
###
Langkah kaki ini tak pernah menentu arah sejak bait purnama mencekam jiwa hingga aku tak pernah ingin berbagi tangis dengan siapapun. "Biar ku tunggu Gerhana" agar tangis ini tertutupi dalam gelapnya malam waktu gerhana. Malam ini perjalanan pulangku terhambat rasa bersalah akhirnya aku memutuskan untuk berhenti sejenak di salah satu "Rumah Allah" di atas kota jakarta yang padat ini. Mungkin akan banyak pelajaran yang ku dapat malam ini, tapi memang dasar jiwa ini sedang kerdil untuk mencari hikmah yang berserakan tetap saja aku tak mendapatkan apa-apa. Bunda yang mulai renta tak ingin lagi nanda menjadi beban, meski bunda tak pernah merasa terbebani. Tangis ini tak sanggup nanda bagi, biarlah nanda menghadapinya sendiri. Larutnya malam tak terlihat jakarta tetap saja ramai, malam ini aku tak melihat gerhana itu berarti belum saatnya aku menangis.
###

Tak pernah hamba merasa selemah ini tapi hamba tetap yakin Engkau Maha Kuasa, walau seribu gunung menghujam pundak hamba Engkau Maha Mengetahui kekuatan hamba.



Senin, Desember 01, 2008

Tak ada kata menyerah

Sebesar apapun kekuatan yang kita miliki tetap saja kita tak dapat hidup tanpa-Nya
Sehebat apapun teknologi telah dikuasai tetap kita tak mengetahui rahasia-Nya

Sabtu lalu saya berjalan-jalan di sebuah pemukiman yang saya sendiri tidak pernah lalui sebelumnya. Tepatnya saya ingin merasakan menjadi orang asing, tanpa rasa ragu saya berjalan menyusuri lorong demi lorong. Hingga saya perhatikan setiap orang memandang dengan penuh tanya (atau hanya perasaan saya aja). Tapi entah mengapa saya merasakan keasyikan tersendiri hingga tiba-tiba saya berIstighfar(takut jangan-jangan saya dah mulai stres....hehehehe). Ouh malang nian jika usia semuda saya sudah mengalami gangguan jiwa. Sudah hampir 1km saya berjalan, rasa haus akhirnya menghentikan langkah saya di sebuah warung kecil. Untuk membunuh haus dan lelah sayapun memesan segelas es, disaat haus itu mulai kabur terjadilah perbincangan yang menarik antara saya dan pemilik warung itu. Pak Harun (yah..) nama seorang lelaki setengah baya (atau apalah namanya karena dia tak terlalu tua dan juga sudah tidak muda lagi). Ternyata dia seorang bapak yang harus merawat ke-enam anaknya sendiri karena sang istri pergi ke negri tetangga untuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik.

Yang menarik bukan isi perbincangannya (klo itu sih dah biasa, paling cerita tentang keluarga.dll), tapi justru dari cara beliau bercerita yang selalu diselingi senyum tulus itu. Padahal dari semua ceritanya membuat saya menggigit lidah menahan tangis. Saya salut karena semua anaknya bersekolah walau dengan fasilitas seadanya, kecuali dua orang anaknya yang memang belum masuk usia sekolah. "meraka harus tetap bersekolah, saya gak mau nasib mereka seper saya" ujar pak Harun (kali ini di akhiri dengan tawa sambil berujar lagi "ini memang alasan klasik"). Pak Harun adalah salah satu nelayan yang harus berhenti melaut karena memang keadaan yang memaksanya. Tapi ia tak pernah menyerah dan kini ia membuka warung kecil disamping rumah mungilnya, isinya pun seadanya. Sudah setahun ini istrinya tidak memberi kabar, pak Harun pun hanya pasrah "ini adalah kegagalan saya sebagai kepala keluarga". Diam , saat itu saya hanya bisa diam tertegun tak tau harus berkata apa. "Tapi saya gak boleh menyerah, kasihan mereka...."sambil menunjuk kedua anaknya yang sedang bermain di hadapan kami.
@@@

Hanya rasa yang aneh yang mengikuti saya setelah kaki ini melangkah meninggalkan tempat asing itu. Saya sebagai orang yang fakir ilmu dapat mendengar begitu banyak pelajaran pada hari itu. Mampukah saya menyerap semua pelajaran yang telah saya dapat, dapatkah semua itu menyadarkan saya akan banyak hal....???. Ada sejuta kisah yang memberi banyak makna, ada pemandangan yang tak indah tapi sangat berharga. Ada air mata yang tak tumpah, tapi menyejukan hati. Ada apa lagi ya setelah ini......???Wallahu a'lam

Allahuma, Ya Allah engkau jadikan bumi ini terus berputar, engkau hadirkan malam setelah siang dan engkau persiapkan siang setelah malam berlalu, ajarkan kami dari pergiliran ini kesiapan dan keberanian menghadapi perjalan hidup.
Ya Allah yakinkan kami, bahwa Engkau Yang Maha Mengetahui segala yang kami hadapi akan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-MU ini.

Nb: maaf foto2 yg mendukung cerita di atas tdk dapat saya upload (nda tau knp...?)


Cari Sendiri

Lihat Hasil Pencarian Anda