Sebesar apapun kekuatan yang kita miliki tetap saja kita tak dapat hidup tanpa-Nya
Sehebat apapun teknologi telah dikuasai tetap kita tak mengetahui rahasia-Nya
Sehebat apapun teknologi telah dikuasai tetap kita tak mengetahui rahasia-Nya
Sabtu lalu saya berjalan-jalan di sebuah pemukiman yang saya sendiri tidak pernah lalui sebelumnya. Tepatnya saya ingin merasakan menjadi orang asing, tanpa rasa ragu saya berjalan menyusuri lorong demi lorong. Hingga saya perhatikan setiap orang memandang dengan penuh tanya (atau hanya perasaan saya aja). Tapi entah mengapa saya merasakan keasyikan tersendiri hingga tiba-tiba saya berIstighfar(takut jangan-jangan saya dah mulai stres....hehehehe). Ouh malang nian jika usia semuda saya sudah mengalami gangguan jiwa. Sudah hampir 1km saya berjalan, rasa haus akhirnya menghentikan langkah saya di sebuah warung kecil. Untuk membunuh haus dan lelah sayapun memesan segelas es, disaat haus itu mulai kabur terjadilah perbincangan yang menarik antara saya dan pemilik warung itu. Pak Harun (yah..) nama seorang lelaki setengah baya (atau apalah namanya karena dia tak terlalu tua dan juga sudah tidak muda lagi). Ternyata dia seorang bapak yang harus merawat ke-enam anaknya sendiri karena sang istri pergi ke negri tetangga untuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik.
Yang menarik bukan isi perbincangannya (klo itu sih dah biasa, paling cerita tentang keluarga.dll), tapi justru dari cara beliau bercerita yang selalu diselingi senyum tulus itu. Padahal dari semua ceritanya membuat saya menggigit lidah menahan tangis. Saya salut karena semua anaknya bersekolah walau dengan fasilitas seadanya, kecuali dua orang anaknya yang memang belum masuk usia sekolah. "meraka harus tetap bersekolah, saya gak mau nasib mereka seper saya" ujar pak Harun (kali ini di akhiri dengan tawa sambil berujar lagi "ini memang alasan klasik"). Pak Harun adalah salah satu nelayan yang harus berhenti melaut karena memang keadaan yang memaksanya. Tapi ia tak pernah menyerah dan kini ia membuka warung kecil disamping rumah mungilnya, isinya pun seadanya. Sudah setahun ini istrinya tidak memberi kabar, pak Harun pun hanya pasrah "ini adalah kegagalan saya sebagai kepala keluarga". Diam , saat itu saya hanya bisa diam tertegun tak tau harus berkata apa. "Tapi saya gak boleh menyerah, kasihan mereka...."sambil menunjuk kedua anaknya yang sedang bermain di hadapan kami.
@@@
Ya Allah yakinkan kami, bahwa Engkau Yang Maha Mengetahui segala yang kami hadapi akan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-MU ini.
Hanya rasa yang aneh yang mengikuti saya setelah kaki ini melangkah meninggalkan tempat asing itu. Saya sebagai orang yang fakir ilmu dapat mendengar begitu banyak pelajaran pada hari itu. Mampukah saya menyerap semua pelajaran yang telah saya dapat, dapatkah semua itu menyadarkan saya akan banyak hal....???. Ada sejuta kisah yang memberi banyak makna, ada pemandangan yang tak indah tapi sangat berharga. Ada air mata yang tak tumpah, tapi menyejukan hati. Ada apa lagi ya setelah ini......???Wallahu a'lam
Allahuma, Ya Allah engkau jadikan bumi ini terus berputar, engkau hadirkan malam setelah siang dan engkau persiapkan siang setelah malam berlalu, ajarkan kami dari pergiliran ini kesiapan dan keberanian menghadapi perjalan hidup.Ya Allah yakinkan kami, bahwa Engkau Yang Maha Mengetahui segala yang kami hadapi akan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-MU ini.
Nb: maaf foto2 yg mendukung cerita di atas tdk dapat saya upload (nda tau knp...?)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar